oleh

TERUNGKAP MAGUSLIM DAN FERIYATI TERBUKTI MEMERAS, ANCAMAN 9 TAHUN JAKSA HANYA TUNTUT 2 BULAN!!!!! ADA APA???? MAHASISWA HUKUM : EVALUASI KINERJA KAJARI MEDAN!!!!

SUARAGARUDANEWS – Medan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Medan Christina, Carlo Lumbanbatu dan Teti benar-benar membikin mata pengunjung sidang kasus pemerasan di PN Medan terbelalak. Keputusannya menuntut terdakwa dengan hukuman seringan-ringannya, tampaknya perlu mendapat sorotan semua pihak.

Bagaimana tidak, dalam sidang beragenda pembacaan tuntutan yang digelar di ruang Cakra PN Medan, Selasa (22/11), Jaksa hanya menuntut dua bulan penjara untuk kasus pemerasan sesuai pasal 368 sub 369, jo 55,56 KUHP, yang ancaman hukumannya 9 tahun penjara.

Tidak heran, jika terdakwa Feryati alias Velly dan Maguslim alias Acung tampak santai-santai saja saat jaksa membacakan tuntutan. Bahkan, Acung dengan sekenanya duduk berselonjor di kursi panjang sebaris dengan pengunjung yang menyaksikan persidangan itu.

Sikap kurang terpuji yang diperlihatkan Acung, seolah-olah ingin memperlihatkan ‘kehebatannya’ sebagai seorang ‘kuli tinta’ yang tidak ‘tersentuh’ hukuman yang berat, meskipun pada persidangan sebelumnya ia sudah mengaku bersalah memeras korbannya Antony Rp10 juta sekaligus meminta maaf pada persidangan sebelumnya.

Tapi itulah hukum di negeri ini, perintah hakim kepada Feryati dan Acung untuk meminta maaf kepada Antony malah menjadi sebuah kesempatan oleh jaksa untuk memperingan tuntutan, tanpa mempertimbangkan kerugian korban.

Artinya, dengan tuntutan dua bulan, potong masa tahanan, ini sama saja dengan membebaskan terdakwa dari kejahatan sadis yang dilakukan kedua terdakwa.

Teks photo :  Kedua terdakwa PEMERASAN Acung dan Feriyati

Mestinya, permohonan maaf Velly dan Acong, saat sidang lalu kepada Antony,  tidak boleh dijadikan alasan untuk memperingan hukuman terdakwa, apalagi mengingat belum adanya perdamaian dalam perkara ini.

“Maaf sih maaf, tapi hukumannya ya harus sesuai dengan perbuatannya, bukan malah diperingan, apalagi korbannya, Antony, bukan saja mengalami kerugian materi, tetapi juga mengalami trauma berat karena pemerasan yang disertai ancaman yang dilakukan kedua terdakwa, khususnya Acung,” kata Kuna beserta mahasiswa-mahasiswa hukum rekan Antony yang menyaksikan kejanggalan-kejanggalan dalam penetapan tuntutan yang dilakukan jaksa itu.

Teks photo : Terdakwa Feriyati menahan malu menutup wajahnya

Joni, Mahasiswa Fakultas Hukum UISU MEDAN, menilai ada permainan antara terdakwa dan jaksa. Dugaan ini semakin menguat setelah melihat keakraban antara terdakwa dan jaksa dalam persidangan itu. Pantaslah, kalau Acung sebelumnya berani sesumbar dihadapan teman-temannya kalau ia seolah-olah salah seorang oknum yang ‘kebal hukum’ dan dalam kasus pemerasan ini, jaksa tentu akan memperingan tuntutannya.

Berbanding terbalik, jika bukan Acung yang duduk di kursi pesakitan. Jaksa kemungkinan dengan perasaan ‘geram’ menuntut para terdakwa dengan hukuman seberat-beratnya. Entahlah, buktinya Acung malah dituntut serendah-rendahnya. Apa sih kehebatan si Acung,”keluh Kuna, yang juga sahabat baik Antony.

Kejanggalan tuntutan jaksa dalam persidangan itu juga terlihat dengan beberapa kali ditundanya sidang yang beragenda pembacaan tuntutan itu.

“Semula kita memang sudah merasa heran, jaksa yang menyatakan P-21 sehingga perkara ini lengkap dan ketika penyerahan tersangka P-22, kedua tersangka ini sempat ditahan dan mendekam di Rutan tetapi setelah 13 hari kemudian dilepas dengan alasan kemanusiaan, puncak kejanggalan itu terbukti dalam persidangan hari ini, kedua terdakwa hanya dituntut dua bulan. Nah, kalau dipotong masa tahanan, jelasnya setelah sidang ini kedua terdakwa akan bebas. Inilah keinginan jaksa untuk kasus menghebohkan yang merugikan korbannya Antony.

Sikap terdakwa yang menyampaikan keterangan berbelit-belit dalam persidangan sebelumnya, jelas tidak lagi menjadi pertimbangan jaksa dalam menuntutnya. Termasuk kerugian korban Rp 10 juta dan perasaan trauma yang dialaminya selama bergulirnya kasus ini.

Wajar pula jika kemudian dalam persidangan beragenda pembacaan tuntutan terhadap kedua terdakwa, tidak membuat kedua terdakwa ini ‘ketar-ketir’ atau pucat pasi sebagaimana biasanya orang lain yang sedang berkasus secara hukum, seperti kasus pembunuhan Mirna, dengan terdakwa Jessica yang uring-uringan dalam persidangannya.

Beda dengan Acung, yang sepertinya sudah mengetahui benar hukuman ringan yang bakal diterimanya karena kasus pemerasan ini. Bayangkan, dengan santai ia duduk berselonjor kaki dan membentangkan kedua tangannya di kursi panjang yang sebaris dengan duduk pengunjung sidang itu. Acung juga tidak sungkan tertawa bersama para jaksa yang sama-sama disaksikan pengunjung dalam persidangan itu.

Sebab itu kita berharap majelis hakim yang diketuai Richard SH dan anggota, dapat mempertimbangkan kasus ini secara proporsional,  sesuai ketentuan hukum yang berlaku, sebab, kalau pelaku pemerasan hanya dituntut dua bulan, mau ditaruh dimana wajah penegakan supremasi hukum kita,” kata Kuna yang tengah menyelesaikan kuliah di salah satu Fakultas Hukum di Medan.

“Kami juga berharap Kinerja KAJARI Medan juga di evaluasi , karena dalam kepemimpinannya banyak kejanggalan dalam perkara ini dan jauh dari rasa keadilan” ujar Joni Gubernur Fakultas hukum UISU MEDAN yang dari awal mengikuti persidangan ini.

Sementara itu saat di konfirmasi korban Antony, menyesalkan tuntutan jaksa yang sangat ringan terhadap kedua terdakwa, karena itu Antony akan melaporkan kebijakan Oknum Jaksa yang dinilai tidak memiliki hati nurani tersebut

Sebagaimana diketahui kedua terdakwa melakukan pemerasan kepada Antony pada tanggal 11 Juni 2015 dengan no STTLP/ 1514/ VI / 2015 dan baru disidangkan setelah lebih setahun kemudian (Team)

Berikut video pembacaan tuntutan oleh jaksa CARLO LUMBAN BATU :
 
 
 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed