oleh

PERKARA PEMERASAN YANG DILAKUKAN ACUNG MAGUSLIM DAN FERIYATI MULAI TERBUKTI, 5 saksi beri keterangan berbelit-belit

Teks photo : Kedua terdakwa pemerasan Acung alias Maguslim dan Feriyati alias Vellie terlihat duduk di kursi pesakitan.

SUARAGARUDANEWS – MEDAN, Sidang dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi dalam kasus pemerasan yang diduga dilakukan oleh terdakwa Feriyati alias Velly dan Maguslim alias Acung di Pengadilan Negeri Medan Selasa (25/10) semakin Jelas dan terang benderang.

Dalam persidangan yang diketuai oleh Majelis Hakim Richard SH, dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi pihak terlapor menghadirkan 5 orang saksi. Diantaranya 2 anggota polisi yang bertugas di Polsek Medan Timur, Denny Tamba dan Rudi Simanjuntak, Kepling Perwira 2, Salim, serta saudara kandung terdakwa Limhuiping dan Rini, pegawai terdakwa.

Dalam keterangannya, Salim yang diduga sangat dekat dengan kedua terdakwa, mengungkapkan bahwa, benar terdakwa Feriyati membuat keributan di rumah korban Antony (30), sehingga dia terpaksa mengamankan Feriyati ke rumahnya.

Salim juga menambahkan, ia tidak mengetahui adanya pemerasan karena dia tidak berada di TKP saat kejadian pemerasan yang terjadi di halaman Polsek Medan Timur, yang dilakukan kedua terdakwa ini.

Dihadapan Hakim, Salim terlihat memberikan keterangan berbelit-belit misalnya, Salim mengaku tidak mengenal saksi Chris yang sebenarnya sudah berdomisili di Kelurahan Perwira 2 selama 1 tahun, yang merupakan tetangga dan warganya sendiri.

Selain itu, Salim mengaku melihat adanya luka-luka pada malam kejadian itu padahal pada kenyataannya, ketika di Polsek Medan Timur, terdakwa Feriyati tidak terlihat mengalami luka-luka seperti yang disebutkan Salim.

Dalam BAP sebelumnya, Salim mengatakan ada mengusir saksi Christina yang saat itu berada di rumah korban. Menurut saksi korban Antony, keterangan ini jelas mengada-ada karena tidak mungkin sang kepling dapat mengusir tamu saya di rumah saya sendiri,” kata Antony seraya menyesalkan sikap saksi yang memberi keterangan yang selalu berubah-ubah dan tidak sama dengan BAP.

“Memang suka mengada-ngada si Feriyati itu bang! Kepling itu lagi, kapan pula dia ngusir si Christ, sedang si Christ saja sedang bertamu ke rumah saya, bukan ke rumah si kepling, mana ada haknya mengusir tamu saya,” ujar korban pemerasan ini kepada wartawan usai sidang seraya meminta hakim bijaksana dalam menilai keterangan yang tidak masuk akal itu.

Lagian, kata Antony lagi, “Kalau memang ada yang terluka, kenapa tidak dibawa ke dokter, atau atau dilaporkan ke polisi saja. Jangan seolah-olah kasus pemerasan ini diputarbalikkan faktanya menjadi kasus penganiayaan yang pada hakikatnya tidak ada saya lakukan,” ujar Antony.

Sementara, saksi Limhuiping yang diketahui adalah saudara dari terdakwa Feriyati dan saksi Rini juga mengatakan tidak tahu menahu dengan kejadian pemerasan yang diduga dilakukan terdakwa Feriyati dan Acung kepada Korban di depan halaman Polsek Medan Timur.

“Tidak tahu aku Pak tentang kejadian di Polsek Medan Timur” tutur Rini dan Limhuiping dihadapan hakim. Meskipun dalam persidangan sebelumnya, terdakwa Acung alias Maguslim sudah mengakui dihadapan hakim ada meminta sejumlah uang kepada korban, yang diduga atas suruhan Feriyati.

Sama halnya dengan saksi dari kepolisian Denny Tamba dan Rudi Simanjuntak, mereka katanya tidak tahu menahu tentang kejadian pemerasan itu.

“Kami hanya menyarankan untuk membuat pengaduan apabila ada yang dirugikan kepada pihak yang bertikai, dan waktu penyerahan uang itu kami tidak tahu, pas pulang piket kami dengar ada suara ribut di SPKT,” tutur keduanya kepada Majelis Hakim.

Sementara korban Antony mengaku menyesalkan keterangan para saksi yang sangat berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya. Antony menjelaskan, ia terpaksa menyerahkan sejumlah uang kepada terdakwa karena dalam keadaan ketakutan dan dibawah ancaman oleh terdakwa Maguslim alias Acung.

“Malam itu saya dipaksa menyerahkan uang, tapi saya hanya mampu Rp10 juta dari Rp25 juta yang mereka minta,” katanya.

Bahkan, kata Antony lagi, saksi Christina sendiri ada melihat kejadian pemerasan yang dilakukan oleh kedua terdakwa. Kesaksian ini pun telah ia ungkapkan dihadapan hakim pada sidang sebelumnya. Christina mengaku melihat penyerahan uang tersebut kepada Maguslim sekitar pada jam 01.00 wib dini hari

Mendengar keterangan yang berbelit-belit dari saksi terlapor yang sama sekali tidak ada kaitan dengan pokok perkara dan terkesan mengada-ngada, Ketua Majelis Hakim Richard SH yang terlihat kesal mengetuk palu untuk menunda sidang dilanjutkan Selasa (1/11) dengan agenda pemeriksaan kedua terdakwa pemerasan ini.

Terdakwa Feriyati dan Maguslim alias Acung yang sudah pernah ditahan di Rutan selama 13 hari ini terkait kasus ini, diancam melanggar Pasal 368KUHP SUB369 jo55 jo56 tentang pemerasan dengan ancaman hukuman penjara 9 tahun. (Team)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed