oleh

PEMERASAN OLEH ACUNG DAN FERIYATI TERANG BENDERANG

Kedua terdakwa Acung(baju biru) dan Feriyati(baju putih)

Hakim             : Feriyati dan Acong jangan rendahkan martabat Polisi

Feriyati            : Acung Kepo!!! Campuri Urusan Orang!

Terdakwa Acung : Saya dibayar Rp.100 ribu

Medan, (SuaraGaruda) Kelanjutan sidang kasus pemerasan yang dilakukan oknum wartawan Maguslim alias Acung beserta temannya Feriyati menjadi terang benderang. Pada persidangan kali ini Selasa (01/11/2016) di ruangan cakra 7 Pengadilan Negeri Medan dengan agenda Pemeriksaan terdakwa yang diketuai Majelis Hakim Richard SH terlihat seru karena kedua terdakwa saling tuding dan memberikan keterangan yang saling berbenturan sampai-sampai terdakwa feriyati mengatakan bahwa Acung ‘kepo'(sok paten,anggarjago-red) campurin urusan kami.

Pantauan wartawan Suara Garuda di persidangan terlihat Majelis Hakim berulang kali menegur kedua terdakwa agar berkata jujur demi tercipta suatu tuntutan dan keputusan yang seadil-adilnya.
Majelis Hakim terlihat kesal karena dalam keterangannya, Kedua terdakwa terus berbohong dan berbelit-belit, bahkan keterangan para terdakwa yang diberikan sebelumnya dirubah kembali oleh kedua terdakwa.
Terdakwa Feriyati tertunduk menahan malu
Kedua terdakwa terlihat tertunduk malu

Dalam pemeriksaan terdakwa, JPU Carlo SH menanyakan kepada Terdakwa Feriyati “apa yang saudara lakukan setelah menerima uang Rp10.000.000 tersebut?,” Saya membagikan uang kepada polisi yang piket saat itu (polisi yang berjaga di SPKT-red ), ke Acung sebesar Rp300.000,” ujarnya

Tetapi keterangannya tersebut langsung dibantah oleh Acung dengan mengatakan hanya menerima uang Rp100.000 dari Feriyati.

JPU kembali menanyakan “kenapa Acung diberi uang?” karena dia orang Chinese, karena dia ada membantu saya meminta uang, dan sebagai uang terimakasih kepada Acung”, ujar Terdakwa Feriyati
Pada saat Acung diperiksa majelis Hakim dengan menanyakan: 
Hakim                           :        “apa kepentingan saudara atas perkara ini?
 
Terdakwa Acung           :        Saya dipanggil Kanit Reskrim (di Polsek Medan Timur), di jalan Perwira, Acung mengatakan dirinya dipanggil Kepling. 

Hal ini mendapat bantahan dari terdakwa Feriyati “Acong kepo campurin urusan saya dengan Antony” Ujarnya dihadapan Majelis Hakim sehingga para pengunjung sidang tertawa dan menyoraki kedua terdakwa.
Hakim menanyakan juga”apa kapasitas kamu dalam perkara ini?” Acung berkelit saya mau mendamaikan. Namun dibantah oleh Majelis Hakim, “sampai saat ini belum ada perdamaian jadi apa yang kamu damaikan?”
Apa kamu punya surat kuasa untuk menagih hutang?  
Acung : tidak ada yang mulia
Hakim : apa saudara berhak ? Acong:  tidak yang mulia
Hakim : kenapa saudara lakukan? Acong : saya memediasi
Hakim : kalau dimediasi kenapa sampai dipengadilan?
kalau sudah sampai disini harus ada tuntutan dan putusan
tidak ada 86 disini cung!
Yang mulia majelis hakim meminta kedua terdakwa untuk jujur dalam memberikan keterangannya, seraya menunjukan barang bukti uang Rp100.000 yang disita dari acung dan juga slip penarikan ATM korban.
Hakim :apa saudara tau uang ini? Acong : tau yang mulia,, itu uang yg disita dari saya
Kepada Majelis Hakim, Feriyati mengaku menerima Rp10.000.000 dari Acung dan meminta Rp20.000.000 awalnya kepada korban dan akhirnya turun menjadi Rp15.000.000 lalu menjadi Rp10.000.000 padahal dipersidangan dan di bap juga disebutkan harga hp yang harus dibayarkan cuma sebesar Rp8.000.000 itupun dengan kesepakatan cicilan 12 kali.
Disamping itu pada saat kejadian Acung juga mengatakan kepada Feriyati, bahwasanya dia bertugas di Polsek Medan Timur dan punya banyak teman di kepolisian, hal tersebut sinkron dengan pernyataan korban Antony bahwasanya Acung mengatakan kepada korban Antony “Aku adalah raja di Polsek Medan Timur, Kapolsek kusuruh jongkok pun jongkok!!!
Terdakwa Acung alias Maguslim
Penasehat hukum menanyakan kepada Acung, “Apakah sebelumnya Acung punya masalah dengan korban Antony?” Hal ini sikron dengan penerapan pasal yang diterapkan oleh polisi bahwa Acung terlibat dalam kasus ini sehingga ditetapkan menjadi tersangka karena ada unsur dendam kepada Korban.
Tetapi disisi lain Acung terus berbelit, dirinya dipanggil Kanit reskrim dan Kepling seolah-olah Acunglah yang menjadi penentu atau hakim didalam permasalahan Feriyati dan Antony.
Pada saat JPU Carlo SH menanyakan kepada Feriyati, “apa tujuan datang ke Polsek Medan Timur?” Untuk membuat laporan penganiayaan,” ujar Feriyati. 
JPU Carlo SH kembali menanyakan, “Jadi kenapa ada tawar menawar? kenapa tidak buat laporan saja?” Terdakwa Feriyati terdiam dan tidak bisa menjawab pertanyaan JPU. 
Feriyati menyatakan dirinya terbantu dengan kehadiran acung, Hal tersebut sinkron dengan penetapan terdakwa kedua orang tersebut karena Acung turut serta melanggar pasal 55, 56 KUHP.
Pada akhir persidangan Ketua Majelis Hakim Richard SH, menanyakan kepada kedua terdakwa “Apakah kalian merasa bersalah?” 
Dengan tertunduk lesu sembari menahan malu, Kedua terdakwa mengakui kesalahannya. 
Terdakwa Feriyati alias Velly
“Kalau begitu minta maaflah kepada korban” ujar Hakim didalam persidangan itu. 
Maka kedua terdakwa berjalan menghampiri korban yang saat itu kebetulan hadir dan meminta maaf disaksikan para pengunjung sidang. 
Majelis Hakim menunda sidang satu minggu kedepan dengan agenda tuntutan dari jaksa penuntut umum.
Sebelumnya Kepolisian Polresta Medan menetapkan status tersangka dengan pasal 368 sub 369 jo 55,56 KUHP disusul dengan p21 oleh jaksa dan langsung ditahan selama 13 hari pada saat penyerahan tahap dua.
Kedua orang tersebut resmi menyandang status terdakwa. (KUNA)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed